Terimakasih sudah membaca cerita saya. Sawer?

Menghilang Sepenuhnya Kurasa Lebih Baik

Depression
How to Disappear Completely:
Pagi ini kau terbangun dari tidurmu dan episode baru dari keseharianmu pun dimulai. Aku tahu kau berharap mendapat kejutan saat kau membuka matamu. Tapi maaf kawan, tidak ada apa-apa di pagi ini. Sekarang cepatlah bersiap, lihatlah dari balik jendela kamarmu, matahari semakin meninggi dan ini bukanlah hari libur.
Sesampainya di tempatmu bekerja, pemandangan yang tak asing bagimu terjadi lagi. Rekan-rekan kerjamu memandangmu dengan tatapan yang aneh. Beberapa dari mereka juga ada yang menertawakan dirimu. Mungkin karena dari caramu berjalan, atau kau yang selalu kesepian. Tak usah memikirkannya, bukankah yang seperti ini sudah biasa bagimu?
Di bilik kerjamu, kau termenung. Pikiran membawa dirimu mengingat kembali sesuatu yang kau lihat saat perjalanan menuju tempatmu bekerja tadi.
Kau melihat tiga anak SMP sedang berlari, terlihat jelas juga tawa dari wajah-wajah mereka. Sepertinya mereka sedang berlomba menuju sekolahnya. Ah, menyenangkan sekali. Sementara dirimu sewaktu SMP dulu hanyalah korban bullying. Dan kau berpikir waktu itu sekolahmu adalah tempat yang paling kau benci.
Lalu kau juga melihat sepasang siswa dan siswi SMA bergandengan tangan menuju sekolahnya. Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih, tidak salah lagi. Memikirkan kata ‘kekasih’. Kau teringat kembali sewaktu SMA, saat kau menyatakan perasaanmu pada gadis idaman. Namun sayangnya, ia menolak dirimu dengan kata-kata yang begitu menyakitkan. Hingga kini kau masih mengingat hari itu sebagai hari yang paling memalukan dalam hidupmu.
Dan tak jauh berbeda saat kau SMP. 3 tahun masa SMA kau juga kembali menjadi korban bullying. Ah, lebih parah dari sewaktu kau SMP.
Kau tidak hidup, lebih tepatnya kau hanya menghabiskan waktu. Mungkin itu adalah sebuah kalimat yang tepat untuk membedakan manusia yang bahagia dengan hidupnya dan mereka yang membenci.
Di atas jembatan yang tinggi ini, kau menatap pemandangan yang terhampar di hadapanmu. Kau kembali merenung, mengapa kau tidak pernah merasakan kebahagiaan sama sekali? Mengapa hidup sesulit ini untuk dijalani? Kau mempunyai pekerjaan, namun untuk apa semua hasil dari bekerja selama ini? Aku tahu kau hanya ingin bahagia, aku tahu kau butuh teman, atau mungkin kekasih. Atau mungkin kau ingin keluargamu lebih peduli denganmu. Kau benar-benar tidak mempunyai tujuan lagi dalam hidupmu. Hanya hal itulah yang kau inginkan.
“Apakah mungkin aku sedang depresi?”
“Memangnya apa yang salah dariku? Mengapa orang-orang tidak ingin bersama denganku?”
Kau mengalihkan pandanganmu menuju sungai yang mengalir di bawah jembatan ini. Aliran airnya itu begitu tenang, namun tentu saja itu tetap berbahaya.
Ini memang bukan pertama kalinya kau berpikiran untuk mengakhiri hidupmu dengan bunuh diri. Rasanya setiap hari tekanan itu pun semakin kuat di dalam hatimu. Maaf jika aku harus mengatakan ini kawan, tapi bunuh diri tidak akan menyelesaikan semuanya. Kau hanya akan menambah masalah baru.
“Aku hanya ingin menghilang sepenuhnya.”
Saat ini kau memang terjebak oleh rutinitas yang perlahan membunuhmu. Hal-hal yang sama kau lakukan setiap hari dan terus berulang.
“Apa yang aku lakukan di sini?”
“Bukan ini yang seharusnya aku lakukan sekarang.”
Menghilang dari tempatmu berada di sekarang, menuju tempat di mana kau bisa tenang. Walaupun itu tidak menyelesaikan semua masalahmu, tapi setidaknya kau memang harus meninggalkan tempatmu berada saat ini. Aku rasa itu bukanlah ide yang buruk.
Berharap ada sebuah portal yang akan membawamu pergi, melenyapkan semua ingatanmu tentang tempat ini dan orang-orang yang berada di dalamnya. Membawamu menuju tempat yang damai, hanya kau dan alam. Menghilang sepenuhnya, dan kau tidak akan ditemukan lagi selamanya.
Di tengah malam ini, lagi-lagi kau termenung, mendengarkan lagu-lagu dari album OK Computer, Radiohead. Mengapa kau malah menyakiti pikiranmu dengan mendengarkan lagu-lagu depresif dari Radiohead? Aku harap kau juga bisa menjadi seperti Thom Yorke, mungkin saja kau bisa mengubah depresimu menjadi sebuah karya seni. Itu sendiri jika kau masih memiliki harapan untuk mengejar cita-citamu.
Kau mengingat kembali masa kecilmu, masa di mana kau masih mempunyai seribu mimpi. Menjelajah angkasa, membela negara, mengobati orang lain. Masa di mana kau dapat tertidur dengan tenang, dan ibumu yang menyanyikan lagu sambil mengusap kepalamu hingga akhirnya kau terlelap. Masa yang tak akan terulang lagi.
Hingga akhirnya air matamu jatuh karena mengingat semuanya, kau tak pernah menyangka kau akan berakhir seperti ini. Dari semua yang telah terjadi, akankah kebahagiaan akan kau rasakan? Akankah orang yang mencintaimu akan datang? Hati kecilmu selalu memberimu harapan agar kau tetap hidup, menunggu tawa terpancar dari wajahmu, dan berharap kau bisa menumbuhkan rasa cintamu kepada orang lain sekali lagi. Seseorang yang akan menjadi alasan mengapa kau masih ingin bertahan di dunia ini.
Dan mungkin sekali lagi kau akan bertanya pada dirimu sendiri, bagaimana cara menghilang sepenuhnya?

Credit:
Riawan Adji

Sleeper, Rebahaner, Haluer
© Riawan Adji. All rights reserved. Developed by Riawan Adji